Arsip untuk ‘Ebiet G Ade’ Kategori

Ebiet G Ade – Aku Ingin Pulang

Maret 10, 2009

Kemanapun aku pergi
Bayang – bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
S’lalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri
Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab s’mua peristiwa
Hanya di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian

Aku mencari jawaban di laut
Ku sadari langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan
Menghentikan petualangan
Du… du… du…

Kemanapun aku pergi
Selalu ku bawa – bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu ku buka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

Aku ingin pulang…
U… hu…
Aku harus pulang…
U… hu…
Aku ingin pulang…
U… hu…
Aku harus pulang…
U… hu…
Aku harus pulang…

Ebiet G Ade – Ayah Aku Mohon Maaf

Maret 10, 2009

Dan pohon kemuning akan segera kutanam
Satu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu

Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebahagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu

Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana

Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku

Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal

Ayah aku mohon maaf atas keluputanku
Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta

Ebiet G Ade – Berita Kepada Kawan

Maret 10, 2009

Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan

Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih …

Reff#

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari

Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang

Cambuk Kecil – Ebiet G Ade

Maret 10, 2009

 kita mesti telanjang dan
benar-benar bersih

suci lahir dan di dalam batin

tengoklah
kedalam sebelum bicara

singkirkan debu yang masih melekat

o o o
… [01:03]singkirkan debu yang masih melekat

du du du …

o o o

anugerah dan bencana
adalah kehendak-Nya
kita mesti
tabah menjalani
hanya cambuk kecil
agar kita sadar
adalah
Dia diatas segalanya
adalah Dia diatas segalanya
anak
menjerit-jerit
rasa panas membakar
lahar dan badai menyapu
bersih
ini bukan hukuman
hanya satu isyarat
bahwa kita
mesti banyak berbenah
memang bila kita kaji lebih jauh
dalam
kekalutan
masih banyak tangan
yang tega berbuat nista
oh
oh oh …

Tuhan pasti telah memperhitungkan
amal dan dosa yang
kita perbuat
kemanakah lagi
kita kan sembunyi
hanya
kepada-Nya kita kembali
tak ada yang bakal
bisa menjawab

mari hanya tunduk sujud pada-Nya
du du du …
oh oh oh

du du du …
oh oh oh …
kita mesti berjuang
memerangi diri
bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada
disini didalam jiwa ini
berusahalah agar Dia tersenyum
oh oh oh

berusahalah agar Dia tersenyum
du du du …
oh oh oh

du du du …
oh oh oh …
du du du …
oh oh

Camelia II – Ebiet G Ade

Maret 10, 2009

Gugusan hari hari indah bersamamu
Camelia
bangkitkan kembali rinduku mengajakku
kesana

ingin kuberlari mengejar seribu bayangmu
Camelia
tak perduli kan kuterjang biarpun harus kutembus
padang ilalang

tiba-tiba langkahku berhenti
sejuta tangan t’lah menahanku
ingin kumaki mereka berkata
tak perlu kau berlari
mengejar mimpi yang tak pasti
hari ini juga mimpi
maka biarkan ia datang
di hatimu … di hatimu …

Kupu-Kupu Kertas – Ebiet G Ade

Maret 10, 2009

setiap waktu engkau tersenyum
sudut matamu memancarkan rasa
keresahan yang terbenam
kerinduan yang tertahan
duka dalam yang tersembunyi
jauh di lubuk hati
kata-katamu riuh mengalir bagai gerimis

seperti angin tak pernah diam
selalu beranjak setiap saat
menebarkan jala asmara
menaburkan aroma luka
benih kebencian kau tanam
baar ladang gersang
entah samapi kapan berhenti menipu diri

reff#
kupu-kupu kertas
yang terbang kian kemari
aneka rupa dan warna
dibias lampu temaram

membasuh debu yang lekat dalam jiwa
mencuci bersih dari segala kekotoran
aku menunggu hujan turunlah
aku mengharapkan badai datanglah
gemuruhnya akan
melumatkan semua kupu-kupu kertas

Camelia I – Ebiet G Ade

Maret 10, 2009

Dia Camelia
puisi dan pelitamu
kau sejuk seperti titik embun membasahi daun jambu
di pinggir kali yang bening

sayap-saayapmu kecil lincah berkeping
seperti burung camar
terbang mencari tiang sampah
tempat berpijak kaki dengan pasti
mengarungi nasibmu
mengikuti arus air berlari

dia Camelia
engkaukah gadis itu
yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi di setiap tidurku
datang untuk hati yang kering dan sepi
agar bersemi lagi
hmm … bersemi lagi

kini datang mengisi hidup
ulurkan mesra tanganmu
bergetaran rasa jiwaku
menerima harum namamu

Camelia oh Camelia
Camelia oh Camelia
Camelia oh Camelia

Camelia III – Ebiet G Ade

Maret 10, 2009

Di sini dibatu ini
akan kutuliskan lagi
namaku dan namamu
Maafkan bila waktu itu
dengan tuliskan nama kita
kuanggap engkau berlebihan

Sekarang setelah kau pergi
Kurasakan makna tulisanmu
Meski samar tapi jelas tegas
Engkau hendak tinggalkan kenangan
dan kenangan

Disini kau petikkan kembang
Kemudian engkau selitkan
pada tali gitarku
Maafkan bila waktu itu
kucabut dan kubuang
Kau pungut lagi dan kau bersihkan

Engkau berlari sambil menangis
Kau dakap erat kembang itu
Sekarang baru aku mengerti
Ternyata kembangmu kembang terakhir
yang terakhir

Oh Camelia, katakanlah ini satu mimpiku
Oh oh oh oh oh
Camelia, maafkanlah segala silap dan salahku

Disini dikamar ini
yang ada hanya gambarmu
Kusimpan dekat dengan tidurku
dan mimpiku

Camelia IV – Ebiet G Ade

Maret 10, 2009

Senja hitam ditengah ladang
Dihujung permatang engkau berdiri
Putih diantara ribuan kembang
Langit diatas rambutmu
Merah tembaga
Engkau memandangku
Bergetar bibirmu memanggilku
Basah dipipimu air mata
Kerinduan, kedamaian oh

Batu hitam diatas tanah merah
Disini akan kutumpahkan rindu
Kugenggam lalu kutaburkan kembang
Berlutut dan berdoa
Syurgalah ditanganmu, Tuhanlah disisimu
Kematian adalah tidur panjang
Maka mimpi indahlah engkau
Camellia, Camellia oh

Pagi, engkau berangkat hati mulai membatu
Malam, kupetik gitar dan terdengar
Senandung ombak dilautan
Menambah rindu dan gelisah
Adakah angin gunung, adakah angin padang
Mendengar keluhanku, mendengar jeritanku
Dan membebaskan nasibku
Dari belenggu sepi
La la la la la ………….

Dosa Siapa – Ebiet G Ade

Maret 10, 2009

Kudengar suara jerit tangismu
sesepi gunung
Kulihat bening bola matamu
sesejuk gunung

Oh oh engkau anakku
yang menanggungkan noda
sedang engkau terlahir
mestinya sebening kaca
Apa yang dapat kubanggakan
Kata maafku pun belum kau mengerti

Dosa siapa, ini dosa siapa
salah siapa, ini salah siapa
Mestinya aku tak bertanya lagi

Kudengar ceria suara tawamu
menikam jantung
Kulihat rona segar di pipimu
segelap mendung

Oh oh engkau anakku
yang segera tumbuh dewasa
dengan selaksa beban
mestinya sesuci bulan
Apa yang dapat kudambakan
Kata sesalku pun belum kau mengerti

Dosa siapa, ini dosa siapa
Salah siapa, ini salah siapa
Jawabnya ada di relung hati ini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.